Blog ini berisi tulisan-tulisan ringan Sultan Abdul Khair. Jika anda berkenan mengutip sebagian atau keseluruhan dari salah satu atau beberapa tulisan di blog ini, mohon untuk mencantumkan sumbernya. Ikuti Blog ini bila diperlukan. Terima Kasih atas kunjungan anda...!

Rabu, 07 Mei 2014

LAGU QASIDAH "NGAJI KARO'A"

Saya teringat sebuah lagu Qasidah fenomenal saat saya masih kecil. Lagu ini dibuat dengan pantun Bima (Kapatu Mbojo/Bima). Judulnya adalah Ngaji Karo'a. Biasa dinyanyikan saat pengadaan Lomba Mushabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ). Lagu ini  syarat akan nasehat dan petuah agama. Sangat disayangkan sudah banyak liriknya yang saya tidak ingat. Hingga secara kebetulan beberapa saat yang lalu saya berbicara langsung dengan salah seorang yang memodifikasi lagu ini melalui telepon. Dan inilah hasilnya...

Judul: Ngaji Karo'a
Genre: Qasidah Rebana Nasyid

Ngaji Karo'a pahala na'e ndei ru'u
kone ma made pahala wati moda
ede pahu ndei ru'u na dou ma loa karo'a
dou ma loa karo'a (jamak)

Ndake ku carana tana'o ngaji ma caru
rakasi ai mambia weha oi sambea
nggori sambea magari doho satando guru
guru ma tei ndaita dodo tio
ndaita dodo tio (jamak)

Ncoki dei ru'u dou ma da loa karo'a
doho ta'awa kade'e jangko iwa
moro kone howi na ngena londo kahawa
ngena londo kahawa (jamak)

Ncoki dei ru'u dou ma da loa karo'a
lampa dei nonto ti wara au dei nenti
dou ma loa na kabeipa laona
na ka beipa laona (jamak)

Aina mbou ba loamu sambea
aina hodi ba loamu sahada
kombi niki padasapa weha kaimu dosa
weha kaimu dosa (jamak)

Tuta tando da toro tando di
kancoasi ma tuka jabara'i ma toku
tisi loamu cambe sarumbu boe kai cambo
sarumbu boe kai cambo (jamak)

Ntau ra wara ti dei tende ra wa'a
ma lanta laba pa dei dula labo
wati si wara osu sarumbu iu sa'esa
sarumbu iu sa'esa (jamak)

Santabe mena weki siwe mone
sandake wa'upa kasidah ndedi wa'a
warasi ma ncara ta cua kangampu ncore
ta cua kangampu ncore (jamak)

Lagu di atas akan lebih enak dinikmati jika didengarkan langsung saat dinyanyikan dengan iringan Qasidah Rebana...

Sabtu, 26 April 2014

RIMPU: MAHKOTA WANITA BIMA YANG NYARIS PUNAH

RIMPU, mungkin banyak yang belum familiar dengan kata ini. Ya, Rimpu adalah salah satu kata dari bahasa bahasa Bima yang memiliki arti model pakaian wanita muslim di Bima untuk menutup auratnya. Diperlukan 2 kain sarung untuk melilit seluruh tubuh agar tertutup dengan sempurna. Satu sarung untuk bagian kepala menjulur hingga perut, menutupi lengan dan telapak tangan. Satu lainnya, untuk dililitkan dari perut hingga ujung kaki (bahasa Bimanya: sanggentu).

Secara umum rimpu terdiri atas 2 model utama, diantaranya:

1. Rimpu Mpida (biasa juga disebut rimpu cili), yaitu khusus buat para gadis Bima atau wanita yang belum berkeluarga. Model ini juga sering disebut cadar ala Bima, dimana seorang gadis hanya boleh memperlihatkan bagian matanya saja. Dalam kebudayaan masyarakat Bima, wanita yang belum menikah tidak boleh memperlihatkan wajahnya secara utuh,. Ini juga sesuai dengan tuntunan dan ajaran agama Islam. Dengan memakai rimpu mpida tidak berarti membatasi ruang gerak karna sarung yang dikenakan cukup longgar sehingga akan tetap terasa sejuk dan leluasa dalam beraktivitas.
*2 gambar paling depan adalah rimpu mpida/cili

2. Rimpu Colo, yaitu rimpu untuk ibu-ibu atau wanita yang sudah berkeluarga. Wajahnya sudah boleh terlihat oleh umum. Hingga saat ini di pasar-pasar tradisional masih bisa ditemukan ibu-ibu yang memakai rimpu dengan sarung khas dari Bima yaitu tembe  nggoli (tembe:sarung).


Rimpu menjadi cerminan masyarakat Bima yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman, selain itu juga untuk melindungi harkat dan kehormatan seorang wanita ketika beraktivitas di luar rumah.

Rimpu sendiri mulai dikenal oleh masyarakat Bima semenjak masuknya Agama Islam ratusan tahun silam. Sebelum itu masyarakat Bima memiliki kepercayaan Makamba Makimbi, atau dalam bahasa Indonesia adalah Animisme dan Dinamisme, yaitu meyakini setiap benda hidup atau mati yang dianggap keramat memiliki roh atau jiwa dan kekuatan supranatural.

Namun semenjak Islam menyentuh masyarakat Bima, semua semua kepercayaan Makamba Makimbi mulai ditinggalkan. Kemudian wanita-wanita Bima mulai mengenakan rimpu sebagai penutup aurat.

Sayangnya seiring perkembangan zaman, budaya mengenakan rimpu bagi wanita Bimapun ikut tergerus. Semuanya bertransformasi menjadi pakaian atau busana modern, yaitu Rimpu berubah menjadi jilbab. Memang tidak ada yang salah dengan mengenakan jilbab, selain lebih efisien juga sebagai respon atas perkembangan dunia mode. Namun banyak yang mengenakan jilbab tapi seakan terlihat berpakaian minim, karna begitu ketat dan seksi hingga menampakkan lekak-lekuk tubuhnya. Sementara rimpu adalah pakaian yang sesuai dengan busana muslimah sejati sesuai petunjuk dan tuntunan agama.

Era globalisasi serta kemajuan IPTEK memang sangat signifikan dalam merubah gaya hidup. Namun masih ada segelintir orang yang mendedikasikan diri untuk memperkenalkan kembali budaya positif yang hampir musnah ditelan zaman. Seperti adik-adik dari SMAN 2 Kota Bima ini misalnya, yaitu memperkenalkan kembali kepada masyarakat Bima tentang Rimpu. Sikap seperti ini sangat patut kita berikan apresiasi yang tinggi. Serta diiringi harapan agar tak hanya ditunjukan dalam acara yang bersifat ceremonial, namun dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebuah petuah untuk wanita-wanita generasi muda Bima saat ini yang katanya berpendidikan dan terpelajar: "Kalian seharusnya malu dengan moyang kalian yang buta aksara dan tak mengenyam bangku sekolah tapi mereka sangat beretika dan menjunjung tinggi perintah agama. Sementara budaya modern telah menyeretmu dengan berjilbab namun seakan telanjang. Jika tak sanggup berjilbab sesuai tuntunan agama, maka kembalilah dalam fitrah wanita Bima yang sesungguhnya. Yaitu wanita bermartabat dengan berbusana rimpu."

*Sumber gambar: Google.com

Senin, 21 April 2014

I'M FURIOUS AS HELL

Andai kau di sini... Ingin kuhujani bogem mentah teriring semua luapan amarah. Hingga kau pingsan dan kembali tersadar ribuan kali. Sampai hati kau buat air mata menetes dari pipinya. Dia yang kupuja-puja. Jangan pernah kau ulangi bahkan untuk memikirkan itu, jika tak ingin seekor rusa yang terlihat tak berdaya ini berubah jadi Serigala buas kelaparan yang setiap saat siap mencengkrammu...

karna dia harga diriku
karna dia jiwaku
karna dia segumpal darahku
karna dia ratuku
karna dia segalaku
karna dia duniaku
karna dia milikku

Senin, 14 April 2014

CALEG STRESS

Headline News salah satu koran Djogja pagi ini adalah: "Caleg Stress Mencuri Sandal".

Hahahah, sangat menggelitiik :D

Hampir semua caleg hanya siap untuk menang, dan tak satupun yang siap menelan kekalahan. Bagaimana mungkin orang-orang dengan mental "PECUNDANG" seperti ini mampu mewakiti jutaan aspirasi rakyat??? Kehilangan Uang seperti itu saja mereka sudah kalang kabut dan depresi tak karuan, apalagi harus berhadapan dengan Uang Negara yang nominalnya Trilyunan Rupiah, pasti ujung-ujungnya adalah KORUPSI, belum lagi Kolusi dan Nepotisme.

Semoga mereka yang terpilih benar-benar merupakan perpanjangan tangan Tuhan yang mampu mengayomi dan mendengar jeritan serta tangisan rakyat yang diwakilinya. Aamiin...!

#JustMyOpinion

Selasa, 04 Maret 2014

DOU SIWE

Kapatu Mbojo / Pantun Bima
Oleh: Sultan Abdul Khair

Dou Siwe...
dou siwe ma taho, wati kanina sarowa ma katehe
dou siwe ma maci, wancuku loana ruku rawi ma moci
dou siwe ma tupa, wati wara mone ma loana tipu
dou siwe ma loa ngaji, ti ngawana lao lampa ngoja
dou siwe ma ntika, wati loana rawi ma ntuku nteko
dou siwe ma longa, na taho rukuna aka lenga
dou siwe ma heba, wati hobina ka na'e haba
dou siwe ma to'a, na loa kabua samenana taru tu'i
dou siwe ma gaga, wati ngupana mone ma gege

edeku ampo tangara kai dou siwe
laina janga sawu ma moda dei siwi
akeku dou siwe ma taho dei ka wei
laina dou siwe ma hobi lampa wio wao

‪#‎FikiKataho‬

Minggu, 23 Februari 2014

SIAPAPUN BISA BUAS, JIKA DISENTUH TITIK SENSITIFNYA

Djogja masih berdebu sebagai afek kiriman abu vulkanik hasil erupsi gunung kelud sekitar 2 pekan lalu... Hari ini motor saya sedikit bersenggolan dengan 2 orang pria yang sedang berboncengan. Saya langsung meminta maaf, walaupun saya rasa kami sama-sama melakukan kesalahan waktu itu. Tapi entah kenapa sang pengendara ini tidak terima dengan kejadian itu dan menuntut saya, padahal sama sekali tak ada kerusakan baik pada motor saya ataupun dia.

Untuk kedua kalinya saya kembali meminta maaf dan meminta kerendahan hatinya, namun sama sekali tak diindahkan, malah dia semakin nyolot dan lebih parahnya saya diajak berantem (berduel).

Tentu saja saya menolak karna merasa masalah ini terlalu sepele dan masih bisa diselesaikan dengan damai. Namun si pengendara ini terus mendesak walaupun teman yang diboncengnya berusaha menenangkan. Sayapun masih tenang dan berusaha berlalu tapi motor saya tetap saja dihadang. Saya sedikit memaksa hingga akhirnyapun lolos.

Baru beberapa meter saya berlalu, terdengar suara si pengendara ini menyahut keras dari belakang dan itu ditujukan untuk menghina ibu saya. Saat mendengar hinaan itu saya sangat marah, dan darah ini rasanya mendidih seketika. Saya sangat tidak terima saat ibu saya yang dilecehkan. Kesabaran ini rasanya habis hingga akhirnya saya berbalik arah.

Setelah berada tepat didepan si pengendara, saya turun dari motor dan mengajaknya berduel sampai salah satu diantara kami tak ada lagi yang sanggup berdiri. Muka saya memerah dan adrenalin saya tak terkendali. Namun ironisnya, si pengendara ini malah terlihat panik dan berlalu tanpa sepatah katapun. Saat itu juga saya tersadar bahwa orang-orang seperti ini adalah tipe pengecut yang hanya berani menggertak dan menghina.

Satu hal yang bisa kita jadikan pelajaran dari kisah di atas bahwa seseorang yang terlihat lemah dan seakan tak sanggup berbuat apa-apa justru bisa berubah sangat buas dan bringas saat kita sentuh titik paling sensitif dalam hidupnya. Oleh karnanya mulailah belajar menghargai dan tidak menyepelekan orang lain, sehebat dan setangguh apapun anda.


Rabu, 12 Februari 2014

PELECEHAN WANITA, SALAH SIAPA???


Kenapa wanita sekarang lebih gampang dan banyak dilecehkan???

 

Pelecehan (seksual) hingga Pemerkosaan bukan lagi perkara yang tabu untuk dibicarakan dewasa ini. Hal semacam itu sudah sangat lazim menghiasi layar televisi, berita koran, dan yang paling marak adalah selalu menjadi topik panas di portal-portal berita online di internet.

Lantas, mengapa hal ini terus saja terjadi?
Banyak pihak mengklaim, kaum adamlah yang menjadi faktor utama terjadinya tindakan kejam dan asusila seperti ini. Padahal jika kita pahami lebih dalam, maka akan terungkap akar permasalahan sebenarnya yang mungkin saja menjadi penyebab utama. Yup, akar permasalahan yang dimaksud adalah kaum hawa (wanita) itu sendiri.

Betapa tidak, berpakaian minim dan mengumbar aurat seakan sudah menjadi kebiasaan yang membudaya saat ini. Mengenakan busana muslimah tapi masih terlihat ketat saja sudah bisa membangkitkan birahi kaum pria, apalagi tidak mengenakan jilbab dan berpakaian yang seksi. Tentu saja itu akan membuat wanita terlihat lebih murah dan memiliki resiko tinggi untuk dilecehkan. Apalagi sampai sering berkeliaran dan keluar malam. Na'udzubillah!

Atau mari kita mulai berbicara dengan hal-hal kecil yang kadang disepelekan oleh sebagian besar wanita. Yaitu berkeliaran dan eksis di dunia maya, lebih khusus melalui jejaring sosial seperti twitter, instagram, atau yang paling populer adalah facebook.

Apakah anda berpikir memasang foto-foto (lebih khusus foto narsis) di facebook itu tidak membangkitkan gairah para pria?
Apakah anda berpikir banyak cerita, ngeluh dan banyak curhat di facebook itu tidak akan memberi kesempatan pria jahat yang ingin mendzolimi anda?
Apakah anda berpikir online hingga larut malam bagi wanita itu tidak bisa menjadi kesempatan untuk menimbulkan niat jahat?

Yah, saya sadar mungkin anda (wanita) akan berpikir tulisan ini hanya isapan jempol dan berpikir terlalu jauh atas hal-hal yang beresiko terlalu kecil. Tapi percayalah, saya juga seorang pria, tentu saya lebih banyak tahu kebanyakan pria itu seperti apa. Banyak bukti dan fakta yang menyebutkan betapa media sosial itu sangatlah berbahaya dan bisa menjadi awal timbulnya kejahatan. Tak sedikit kasus pelecehan yang berakhir dengan pemerkosaan hanya karna perkenalan singkat melalui facebook.

Lantas, apakah yang saya maksud wanita itu tak boleh bermain facebook, twitter, dan menggunakan media sosial yang lain??? Tentu saja bukan itu point yang ingin saya sampaikan. Wanita itu boleh facebook_an, boleh twitter_an, tapi ketahuilah batas-batas yang membuatmu menjadi wanita muslimah yang mahal, pantas dihormati dan disegani.

Saya jadi teringat kata-kata bang Napi: "Kejahatan terjadi bukan saja karna ada niat dari pelakunya, tapi juga karna ada kesempatan". Jadi, wahai saudariku tutuplah kesempatan itu semaksimalmu, atau paling tidak buatlah kesempatan itu menjadi sekecil mungkin.

Terima kasih, semoga bermanfaat...!!!