Blog ini berisi tulisan-tulisan ringan Sultan Abdul Khair. Jika anda berkenan mengutip sebagian atau keseluruhan dari salah satu atau beberapa tulisan di blog ini, mohon untuk mencantumkan sumbernya. Ikuti Blog ini bila diperlukan. Terima Kasih atas kunjungan anda...!

Senin, 02 Mei 2016

I PROMISE YOU THIS

Terkadang daku bertanya-tanya... Pantaskah aku untukmu? Aku yang belum menjadi siapa-siapa, juga belum menjadi apa-apa. Malu rasanya saat dikau menolak cinta yang lain hanya untuk mempertahankanku yang bukan siapa-siapa. Sungguh kukagumi keteguhan hatimu, aku memuja besarnya kekuatan cintamu...


Engkau tak perlu bertanya lagi tentang rasaku padamu, karna kau tentu mendapatkan jawaban pasti. Yah, seluruh gambaran masa depanku hanya ada engkau seutuhnya. Saat ini aku memang bukanlah siapa-siapa, saat ini aku memang belum menjadi apa-apa. Tapi kujanjikan engkau satu hal, bila saatnya kita ditakdirkan bersama, maka akan kupersembahkan segala yang kumiliki dan kubisa untukmu. Akan kuusir jauh segala resah dan kesusahan yang hendak menghapiri indah hidupmu. Tak akan kubiarkan air mata kesedihan menetesi mata indahmu. Takkan kubiarkan tangisan duka mengganggu manis rekah senyumanmu. Karna beta bodohnya aku jika menyiakan kemurahan hati dan kesetiaanmu...

 

Tanggungjawab dan segala dedikasiku sepenuhnya untukmu...ITU JANJIKU !


#IT



Sabtu, 26 Maret 2016

ADA APA DENGAN DANA MBOJO??? KENAPA KITA TERTINGGAL DAN BIASA-BIASA SAJA???

Pertanyaan yang muncul cukup sederhana, Kenapa Dana Mbojo belum mejadi Daerah yang Maju dan kompetitif? Kenapa Dana Mbojo cenderung jalan di tempat dan bahkan mengalami kemunduran?

Jika kita berkelana melawan laju waktu menuju 15+ tahun yang lalu maka kita akan terkejut dengan sajian Dana Mbojo yang sangat berbeda dengan saat ini. Transportasinya memang tak sebagus dan sebanyak sekarang, teknologinya memang tak seheboh dan secanggih saat ini, namun lebih dari itu kita akan menemui Insan Mbojo yang bersahabat dan memiliki mental yang lebih baik dari muda-mudi zaman sekarang.

Tolak ukurnya cukup sederhana... Dulu, Dana Mbojo punya orang-orang yang sangat menghargai antara satu dengan yang lain sehingga jarang didengar adanya kesenjangan sosial di tengah masyarakat. Budaya Karawi Kaboju (gotong royong) sangat dijunjung tinggi sebagai sarana merajut silaturrahim. Lantas apa permasalahannya sehingga budaya ini begitu drastis menghilang tergerus laju zaman?

***Let's analyze it!

Tentu saja kita tak akan sanggup menolak bagaimana arus kehidupan terus berkembang, kita tak akan sanggup menghindar dari derasnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah kemajuan itu sudah sesuai pemanfaatannya? Jawabnya sudah pasti BELUM, karna buktinya kita belum lebih baik dari hari kemarin, malah sebaliknya kita jauh lebih terpuruk justru di era yang jauh lebih modern ini.

Setujukah anda bahwa para koruptor itu adalah orang-orang pintar dan berpendidikan tinggi? Saya setuju...! Dana Mbojo saat ini sedang dipenuhi oleh koruptor dan penjilat-penjilat sampah yang memeras uang dan keringat masyarakat dengan memanfaatkan jabatan dan kekuasaan. Mulai dari penjilat kelas teri yang mengelola pungutan-pungutan liar hingga koruptor kelas salmon yang merajai sogokan para pengusaha dan investor hingga memeras rakyat kecil yang ingin memeroleh jabatan dan kedudukan tertentu. Dengan fenomena pahit ini, maka kita bisa memetik kesimpulan sementara bahwa Dana Mbojo tidak kekurangan sumber daya manusia, kita tak kekurangan orang-orang pintar.

Lantas, jika kita tak kekurangan orang-orang pintar, apakah kita kekurangan Sumber Daya Alam? Saya rasa siapapun setuju jawabannya juga TIDAK. Dana Mbojo memiliki Sumber Daya Alam yang bejibun dan melimpah. Tapi kenapa perekonomian masyarakat tetap terpuruk?
Kita dapatkan satu kesimpulan kecil lagi bahwa kita tak kekurangan Sumber Daya Alam. Lantas apa sebenarnya yang menjadi akar permasalahan?

Kita sudah punya sistem transportasi yang lebih baik sehingga akses jadi lebih mudah, kita sudah punya teknologi yang lebih canggih sehingga aliran informasi di seluruh dunia bisa kita serap secepat kilat, kita punya generasi muda yang berpendidikan tinggi dan terlatih sehingga harusnya bisa mengelola Dana Mbojo menjadi lebih maju dan lebih baik. Tapi kenapa???

Hemat saya, ternyata kita sudah benar-benar lupa 1 hal yang paling substansial, yaitu kita sedang melalui fase "Lupa Diri"... kita sudah keilangan 1 hal yang amat sangat penting. Kita sudah kehilangan KARAKTER. KARAKTER yang menjadi identitas kita sebagai Dou Mbojo yaitu dou ma MAJA LABO DAHU (Malu dan Takut). 

Sudah jelas sekarang apa yang membuat orang terdahulu kita jauh lebih baik. Mereka malu dan takut jika berbuat maksiat, malu dan takut jika bermusuhan, malu dan takut jika menindas orang lain, malu dan takut korupsi, malu dan takut melakukan segala hal yang bertentangan dengan norma dan agama. 

Namun saat ini justru tanpa rasa malu dan takut kita melakukan segala jenis kemungkaran. Perkelahian dan pembunuhan terjadi dimana-mana, pemerkosaan merajalela, Narkoba dan Miras sudah merasuki kehidapan generasi muda bahkan anak-anak. Kemajuan IPTEK justru menyeret kita menuju kehancuran. Makin banyak orang berpendidikan ternyata tak membuat kita lebih baik karna sekali lagi kita sudah kehilangan hal terpenting, KARAKTER!

KARAKTER MAJA LABO DAHU yang harusnya kita jaga dan kita lestarikan. KARAKTER yang seharusnya membawa kita menjadi insan yang unggul. 

Saya rasa, kita hanya punya 2 pilihan untuk saat ini. Apakah bertahan dengan keterpurukan ataukah melangkah untuk menjadi lebih baik. Semoga kita bisa mengembalikan KARAKTER "MAJA LABO DAHU", memperbaiki Identitas dan kirisis moral menuju Dana Mbojo yang lebih cemerlang, lebih maju, dan lebih bersahaja....

Cukup mulai dari diri sendiri ^_^

Kamis, 24 Maret 2016

NAMA ORANG BIMA KEKUNOAN VS KEKINIAN

Inilah nama-nama yang menjadi ciri khas orang Bima TEMPO DOELOE...

Pria : Ibrahim (Boa/Brahe), Abdullah (Dole), Usman (Moa), Ishaka (Heko), Zakaria (Zeko), Saidin (Deo), Ali (Elo), Ahmad, dll...
Wanita : Aisyah (Ose), Sa'idah (Adu), Marlah (Lau), Fatimah (Tamu), Jaenab (janu), Marwah (Wau), dll...

Kebanyakan pemilik nama-nama di atas adalah orang-orang tua (Bapak2-Ibu2 atau Kakek-Nenek). Kedepannya mungkin nama-nama di atas tidak akan lagi eksis mengingat tendensi orang Bima yang lebih tertarik dengan nama-nama yang berbau modern... Kalaupun ada yang bernama seperti di atas pastilah sudah disamarkan dengan nama "beken" atau nama "samaran".

Nama Penyanyi, artis sinetron dan bintang film menjadi pilihan utama. Tak heran jika Krisdayanti, Agnes Monika, Anjasmara, Ona Sutra, Titi Kamal, dan nama-nama artis terkini menjamur dijadikan nama anak di Bima... Pengaruh media benar-benar dahsyat...

"APALAH ARTI SEBUAH NAMA", ungkapan yang begitu sering kita dengar... Sebuah nama memang tidak serta merta mencerminkan akhlak seseorang. Namun tetap saja sebuah nama merupakan ciri khas dan identitas yang tak boleh kita remehkan...

Saya tidak tau apakah harus senang ataukah berduka dengan fenomena yang ada, yang pasti saya sama sekali tidak merasa bangga. Karna kira sudah kehilangan identitas, kita kehilangan ciri khas, kita kehilangan karakter... Nama-nama pendahulu kita terdengar begitu bersahaja dan bersahabat. Dan memang seperti itulah karakter kita yang sebenarnya...

Sabtu, 05 Maret 2016

MACET YANG KUIDAM


Sepertinya semesta ikut andil dalam konspirasi agung... Waktu terlalu cepat berlalu... Benarkah sehari itu 24 jam??? Akh... Rasanya cuman sebentar, 1 jam hanya terasa seperti 60 menit :D

Jalananpun rasanya terlalu lancar saat kita bersama. Lampu lalu lintas hanya menandakan hijau hijau dan hijau. Kemana bis-bis dan truk-truk besar yang biasanya menghadang jalan??? Mereka semua bagai menghilang dan bersekongkol untuk membuat waktuku berlalu cepat... Tak pernah sekalipun dalam hidup rasanya ingin jalanan SEMACET ini... Macet bersamamu pasti sangat membahagiakan... Asal bersamamu, selalu melihat rekah senyuman manismu... 

Minggu, 31 Januari 2016

GADIS BIMA TERGILA-GILA DENGAN PRIA PNS... BENARKAH???

Bukan rahasia lagi, dikalangan masyarakat Bima, memiliki suami atau menantu seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) adalah sesuatu yang begitu membanggakan. Mulai dari profesi guru, TNI/Polri, atau pergawai di berbagai instansi pemerintahan.

Entah kenapa hal ini selalu menarik dan tak pernah usang untuk diperbincangkan. Khususnya bagi permuda Bima yang Non-PNS atau enggan jadi PNS. Sehingga kadang akhirnya memunculkan beberapa permikiran, mulai dari yang menarik hingga permikiran nyentrik. Pikiran-pikiran yang muncul antara lain: 1. Apakah gadis-gadis cantik Bima hanya akan dimonopoli oleh PNS?, 2. Akankah kita para permuda Non-PNS kebagian perawan?, hingga 3. Bagaimana cara mengimbangi hegemoni dan pesona para PNS dihadapan gadis-gadis dan calon mertua,

Pemikiran-pemikiran tersebut muncul begitu saja seiring adanya kecemburuan sosial terhadap para PNS yang kian hari tajinya kian runcing dihadapan gadi-gadis dan masyarakat Bima.

Lantas.....

Salahkah para orangtua di Bima mengidamkan menantu PNS? atau Materialistiskah gadis-gadis Bima mengharapkan suami PNS??? Jawabnya tentu saja TIDAK... Karena orangtua selalu menginginkan pria yang terbaik untuk putrinya, mereka tentu membutuhkan jaminan kehidupan yang layak serta masa depan yang aman. Dan PNS tentu memenuhi kriteria itu... Selanjutnya, Materialistiskan gadis yang mengidamkan suami PNS? Jawabnya juga TIDAK... Memangnya seberapa besar sih gaji seroerang PNS hingga kita lancang mengatakan seorang gadis Materialistis? penghasilan seorang PNS hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya saja. Mereka hanya sedikit berjaya dengan adanya pinjaman dari BANK, itupun harus menanggung potongan gaji yang memprihatinkan. Namun bagaimanapun juga wanita adalah makhluk yang paling peduli dan memikirkan kehidupan masa depan dirinya dan yang terpenting adalah masa depan anak-anaknya kelak... Sehingga menjadi isteri seorang PNS dianggap serbagai solusi paling aman...

Mobilitas masyarakat mencari menantu atau suami PNS ini semakin mengkhawatirkan saja dengan pergeseran budaya yang terjadi. Jika dulunya seorang prialah yang membawa mahar, maka sekarang malah sebaliknya, di beberapa kejadian justru wanitalah yang mempersembahkan mahar bagi sang pria PNS. Alasannya sederhana, sudah menjadi rahasia umum bahwa untuk menjadi seorang PNS itu membutuhkan modal yang tak sedikit. Butuh uang puluhan hingga ratusan juta sebagai pelicin untuk melobi sana sini*. Dan uang mahar itu dianggap sebagai pengganti modal menjadi seorang PNS.
Hahah... Kenyataan ini semakin PAHIT saja bagi para pemuda Non-PNS...

Mari kita lanjutkan...! So, bagaimana solusi agar pemuda Non-PNS punya nilai dihadapan para gadis dan orangtua? Jawabannya sederhana: Mari kita berikan mereka alasan kenapa kita lebih baik dan lebih unggul... Jika saat ini para gadis dan orangtua hanya punya 2 pilihan sempit, yaitu pilih PNS atau Pengangguran. Maka kita ubah opsi suram itu menjadi: Pilih PNS atau Pengusaha Muda Sukses? Pilih PNS atau Pemuda Kreatif, Pplih PNS atau Eksekutif Muda?
Dengan dermikian, maka hegemoni para PNS yang merajalela akan dengan mudah dipatahkan. Selain itu akan banyak keuntungan lain yang muncul. Kita tak akan membebani negara dengan mengantri jadi PNS, kita akan sanggup menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang, dan yang terpenting kita akan sanggup mempesona calon mertua dan menggaet hati si gadis pujaan hati...

Jadi kesimpulannya adalah, gadis-gadis Bima menggandrungi PNS bukan semata-mata karna mereka adalah pilihan satu-satunya, tapi karna mereka tak punya pilihan lain yang seimbang atau bahkan lebih baik. Kitalah yang sanggup membuat pilihan dan opsi itu, dan sekaranglah saatnya... Karna Pegawai Negeri Sipil bukanlah segalanya.

SALAM PNS... Bukan Pegawai Negeri  Sipil tapi PEMUDA NAN SUKSES...

Yang ingin jadi Pemuda Sukses angkat tangan, kita gapai mimpi-mimpi besar bersama. Yang hanya ngantri jadi PNS silahkan angkat kaki, heheh...

Minggu, 22 November 2015

3th ANNIVERSARY

Awal jumpa kita tak saling sapa

aku siapa dan kamu siapa

bahkan tak berani berbalas salam

kita hanya saling mengagumi dalam diam


Seiring waktu tekadku jadi satu

kau bak seorang ratu

menaklukan hati pria berkepala batu


Yang rasa kagumnya menjelma jadi cinta

menghiasi hari dengan penuh angan dan pinta

aku seakan Rama dan engkau adalah Sinta


Kini...

3 tahun berjalan kita mulai berpikir sejalan

menata masa depan pelan dan perlahan

hingga suatu nanti kita bersanding di pelaminan

diikat dalam sucinya tali pernikahan


Kasih...

Aku tak hanya ingin memilikimu saat ini

tapi juga esok, lusa, nanti, atau hingga raga ini mati...


Kamis, 01 Oktober 2015

5 FAKTA MENARIK YANG PERLU KAMU TAHU TENTANG GADIS BIMA (SIWE SAMPELA SUKU MBOJO)

Dari fakta-fakta yang saya tulis di bawah ini memang tidak sepenuhnya merepresentasikan semua gadis Bima. Namun secara umum berdasarkan pengalaman dan observasi 'tak sadar', berikut adalah 5 fakta menarik yang perlu anda tahu tentang gadis Bima (Gadis Suku Mbojo). Cekidot:

1. Gadis Bima akan merasa malu apabila tak mengenakan jilbab/hijab.

Jika anda tinggal di Bima, maka akan sangat langka melihat anak gadis yang berkeliaran tanpa mengenakan jilbab. Selain karna masyarakat Bima adalah mayoritas beragama Islam, juga disebabkan oleh warisan budaya dan tradisi turun temurun yang sudah sangat melekat. Jika dulu wanita Bima mengenakan Rimpu (Red: sarung sebagai pengganti jilbab) sebagai penutup aurat, maka sekarang gadis-gadis Bima ikut bertransformasi dengan jilbab atau hijab dengan model dan gaya yang stylish dan modern. (baca juga tentang rimpu: http://kreasijemariku.blogspot.co.id/2014/04/oleh-sultan-abdul-khair-rimpu-mungkin.html)

Di samping itu gadis Bima juga memiliki semboyan atau pedoman hidup "Maja Labo Dahu" atau Malu dan Takut, sehingga tertanam dalam hati setiap individu agar malu dan takut jika berbuat maksiat, salah satunya adalah malu dan takut jika tak menutup aurat (Berjilbab). Masyarakat Bima juga memandang gadis yang tak berjilbab sebagai sesuatu yang tak wajar dan asing.

2. Gadis Bima adalah pekerja keras.

Apabila anda berniat meminang gadis Bima, maka jangan takut mendapatkan gadis manja dan cengeng. Karna mereka sudah terlatih untuk hidup mandiri dan tidak bergantung pada siapapun. Sejak kecil, wanita Bima dilatih untuk ikut serta membantu pekerjaan orang tua mereka, sehingga gadis Bima tahu betul bagaimana susahnya mencari nafkah bagi keluarga. Jadi dapat dikatakan gadis Bima cukup tahan banting dan teruji untuk hidup susah dan sederhana. Namun ini sama sekali tidak berarti mereka berhenti untuk mengejar cita-cita menuju kesuksesan.

3. Gadis Bima suka pria berseragam.

Bukan rahasia lagi bahwa para orang tua di Bima sangat mengimpikan menantu yang memiliki jabatan serta berseragam. Biasanya mereka sangat mengidolakan PNS (Pegawai Negeri Sipil) untuk dijadikan menantu. Secara tidak langsung, hal ini juga mempengaruhi gadis-gadis Bima secara Psikologis untuk menyukai para pria berseragam, entah mereka Pejabat, TNI/Polri, Guru, atau pria-pria yang memiliki sistem kerja 'Kedinasan'.

Namun seiring dengan perkembangan Zaman dan derasnya arus globalisasi, kebiasaan ini sedikit-sedikit mulai berubah. Sehingga gadis-gadis Bima tak hanya di Monopoli oleh para PNS (Pegawai Negeri Sipil), tapi juga mereka terbuka dan berminat dipinang oleh para PNS (Pemuda Nan Sukses) yang memiliki pikiran out of the box dan serta pemberontak kebiasaan lama untuk menjadi pengusaha-pengusaha hebat dan sukses di tanah Bima. 
***Penulis akan jadi salah satu PNS (Pemuda Nan Sukses) ini nantinya. heheh :D

4. Gadis Bima suka makan rujak.

Jika berbicara tentang wanita, maka aktivitas 'ngerujak' bukanlah hal yang aneh. Karna wanita seringkali menghabiskan waktu dengan teman-temanya untuk sekedar makan rujak. Tapi tunggu dulu...! Jika yang kita bicarakan adalah gadis Bima, maka anda akan dihadapkan dengan kebiasaan mereka untuk ngejurak secara 'EKSTRIM'. 

Gadis Bima dengan kebiasaan ngerujaknya tak akan pernah dipisahkan, mereka seakan melahap segala hal yang bisa memancing liur. Tak kenal waktu siang ataupun tengah malam, mereka akan melakukan aktivitas 'ngerujak' jika nafsu sudah membeludak. Bahkan saat gadis Bima merantau ke luar daerah, mereka akan rela menunggu berminggu-minggu untuk kiriman buah endemik khas Bima dari sanak saudara (Red: Kinca / Kawi / Buah Batu).

5. Gadis Bima suka dipanggil Pesek (Mpena).

Walaupun penulis adalah asli Bima, namun masih juga diselimuti kebingungan terkait fenomena aneh ini. Lebih kurang 10 tahun terakhir, kebiasaan ini tumbuh dan merebak seperti virus dikalangan remaja dan pujangga cinta. Sebagian besar pasangan pria menggunakan kata "MPENA" sebagai panggilan kesayangan untuk kekasihnya. Tidak peduli apakah hidung sang kekasih mancung-semancung-mancungnya, namun tetap saja tak lepas dari panggilan Mpena (pesek). Dan yang lebih aneh, sang wanita tetap tersipu dan sangat nyaman dengan panggilan itu karna dianggap sebagai pertanda ikatan emosional yang semakin kuat...

Penulis membuat kesimpulan bahwa kata "Mpena" tidak lagi berarti "Pesek", Namun kata ini sudah mengalami pergeseran makna menjadi "Yang Tersayang".

Demikian 5 Fakta menarik yang perlu anda tahu tentang gadis Bima. Jika pembaca merasa tidak nyaman dan merasa materi tulisan tidak sesuai atau menyinggung, maka mohon dimaafkan. Terima kasih ^_^